Parigi, 18 Agustus 2026 — Persoalan pengelolaan sampah masih menjadi salah satu tantangan ekologis yang dihadapi masyarakat di berbagai wilayah pedesaan. Di tengah kebutuhan akan lingkungan permukiman yang bersih, sehat, dan aman, realitas di lapangan justru menunjukkan masih ditemukannya timbunan sampah yang berserakan serta praktik pembakaran sampah secara terbuka yang berpotensi menimbulkan pencemaran udara dan mengganggu kenyamanan masyarakat.
Kondisi tersebut turut dijumpai di Dusun Parigi, Desa Parigi, yang menjadi salah satu wilayah perhatian Tim KKN Kelompok 131 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Berdasarkan riset mini yang dilakukan oleh tim, ditemukan sejumlah titik yang mengalami persoalan pengelolaan sampah, terutama akibat pembuangan sampah yang tidak teratur dan praktik pembakaran sampah secara terbuka. Situasi tersebut tidak hanya berdampak terhadap estetika lingkungan, tetapi juga berkelindan dengan persoalan kesehatan, kenyamanan, serta mobilitas masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Salah satu persoalan yang cukup mencolok terdapat pada lokasi yang pada hakikatnya diperuntukkan sebagai Tempat Penampungan Sementara (TPS). Dalam praktiknya, lokasi tersebut justru mengalami pergeseran fungsi menjadi tempat pembuangan sampah layaknya Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Akumulasi sampah yang berlangsung secara terus-menerus tanpa diimbangi dengan sistem pengangkutan dan pengelolaan yang memadai menyebabkan timbunan menjadi tidak terkendali.
Penumpukan tersebut pada akhirnya menciptakan persoalan baru. Sampah yang menggunung berpotensi menghambat ruang gerak masyarakat, menimbulkan aroma yang tidak sedap, serta memperburuk kualitas lingkungan di sekitar permukiman. Di sisi lain, keterbatasan pengelolaan sampah juga mendorong sebagian masyarakat untuk melakukan pembakaran secara mandiri. Asap yang dihasilkan dari pembakaran terbuka dapat menyebar ke lingkungan sekitar sehingga mengurangi kualitas udara dan mengganggu kenyamanan warga.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim KKN Kelompok 131 menghadirkan intervensi berbasis masyarakat melalui penyediaan Bank Sampah dan roket stove sebagai alternatif pengelolaan sampah di Dusun Parigi. Kehadiran kedua fasilitas tersebut diharapkan tidak semata-mata menjadi solusi teknis, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi terbentuknya kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang lebih tertib dan berkelanjutan.
Bank sampah dirancang sebagai ruang pengelolaan sampah anorganik yang memiliki potensi nilai guna dan nilai ekonomi. Melalui mekanisme tersebut, masyarakat dapat memilah serta menyetorkan berbagai jenis sampah anorganik, seperti botol plastik, logam, kardus, kertas, dan material lain yang masih memiliki potensi untuk didaur ulang maupun dipasarkan kembali.
Sampah yang telah dihimpun selanjutnya dikelola oleh bank sampah untuk kemudian dipilah, ditimbang, dan dikumpulkan sebelum disalurkan kepada pihak yang dapat melakukan pemanfaatan atau pembelian material tersebut. Hasil penjualan sampah selanjutnya dapat diarahkan menjadi bagian dari kas masyarakat atau kas kelembagaan desa, sehingga sampah tidak lagi dipersepsikan semata-mata sebagai residu yang harus disingkirkan, melainkan sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomis apabila dikelola secara tepat.
Konsep tersebut sekaligus menjadi upaya untuk menggeser paradigma masyarakat mengenai sampah. Jika sebelumnya sampah kerap diasosiasikan dengan sesuatu yang tidak bernilai dan harus segera dibuang, keberadaan bank sampah diharapkan dapat menumbuhkan perspektif baru bahwa sebagian sampah masih memiliki nilai ekonomi dan dapat dikonversi menjadi manfaat apabila melalui proses pemilahan dan pengelolaan yang tepat.
Sementara itu, rocket stove dihadirkan sebagai salah satu alternatif dalam menangani residu sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Perangkat ini dirancang dengan prinsip pembakaran yang lebih efisien sehingga dapat membantu meminimalkan asap dibandingkan praktik pembakaran sampah terbuka yang dilakukan secara sembarangan. Dengan demikian, penggunaannya diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi kebiasaan pembakaran liar yang berpotensi mengganggu kualitas udara di lingkungan permukiman.
Kendati demikian, penyediaan fasilitas tersebut tidak diposisikan sebagai solusi tunggal atas kompleksitas persoalan sampah. Keberlanjutan program tetap bergantung pada partisipasi masyarakat, konsistensi pemilahan sampah dari sumbernya, tata kelola bank sampah yang akuntabel, serta dukungan berbagai unsur masyarakat dan pemerintah desa.
Melalui program tersebut, KKN Kelompok 131 berupaya menanamkan gagasan bahwa penanggulangan sampah bukan semata-mata persoalan teknis, melainkan agenda sosial yang membutuhkan kesadaran, partisipasi, dan tanggung jawab kolektif. Pengelolaan sampah yang baik diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih tertata sekaligus membuka peluang ekonomi sederhana bagi masyarakat.
Pada akhirnya, inisiatif bank sampah dan rocket stove di Dusun Parigi diharapkan dapat menjadi embrio bagi terbentuknya ekosistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Bukan hanya untuk mereduksi timbunan sampah dan praktik pembakaran liar, tetapi juga untuk menumbuhkan budaya memilah, mengelola, dan memanfaatkan sampah secara berkelanjutan. Dengan demikian, kebersihan lingkungan tidak berhenti sebagai cita-cita, melainkan bertransformasi menjadi praktik kolektif yang memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomis bagi masyarakat Desa Parigi.
Author: Yusuf Maulana